Aku seorang agen apartemen mewah di Jakarta, Namaku Dewi. Pekerjaan ini memberiku kesempatan untuk bertemu banyak orang, mengenal banyak cerita, dan membantuku membangun hidup yang selama ini kuimpikan. Hari-hariku dipenuhi jadwal padat bertemu klien, menyiapkan dokumen, dan mengantar mereka melihat unit-unit terbaik. Aku menyukai pekerjaanku, karena memberi makna pada setiap hariku.
Aku tinggal di sebuah apartemen mewah bersama suamiku, Diego. Apartemen kami berada di lantai dua puluh tiga, dengan pemandangan lampu kota yang memukau. Setiap malam aku selalu menyempatkan diri berdiri di jendela, memandang ke bawah, mengingat semua yang sudah kami lalui untuk sampai di sini.
Diego adalah seorang direktur di sebuah perusahaan pengembang ruko. Ia pekerja keras, ambisius, dan selalu membawa diri dengan tenang. Bersamanya, aku merasa hidupku lengkap. Setidaknya dulu aku merasa begitu.
Informasi Terkait: Tips Memilih Apartemen Mewah di Kawasan Thamrin Jakarta
Ada Yang Berubah di Apartemenku
Beberapa bulan terakhir, sesuatu terasa berubah. Diego sering pulang lebih malam dari biasanya. Ia tetap bersikap ramah dan hangat seperti biasa, tapi ada jarak yang tak bisa kujelaskan. Aku mencoba mengabaikan, mencoba percaya bahwa ini hanya masa sibuknya yang akan berlalu.
Namun diam-diam aku mulai terusik melihat kebiasaan barunya yang selalu membawa ponsel ke mana pun, bahkan ke meja makan. Kadang ia tersenyum tipis menatap layarnya, lalu buru-buru menguncinya ketika aku datang menghampiri.
Aku selalu berusaha menahan diri. Aku tidak ingin menjadi istri yang curiga tanpa alasan. Tapi malam itu, entah kenapa, aku merasa tidak bisa lagi hanya diam. Hujan turun deras membasuh kaca jendela, dan Diego sudah terlelap di sisi ranjang.
Kutemukan Bukti di Apartemenku
Ponselnya tergeletak di meja nakas, tanpa suara. Aku hanya duduk, menatapnya lama, ragu apakah aku punya hak untuk menyentuhnya. Namun pada akhirnya jemariku bergerak sendiri, meraih ponsel itu dan membuka layar.
Ternyata tidak dikunci dengan pola baru. Sebuah pesan baru muncul di aplikasi percakapan. Hanya sekilas kulihat nama di layar: Sari. Pesan-pesannya sederhana namun penuh arti, dengan nada yang hangat dan akrab. Pesan terakhir membuatku terpaku. “Terima kasih sudah menemani makan malam tadi. Senang sekali bisa melihatmu lagi. Hati-hati di jalan, ya.”